Rabu, 05 Juni 2013

"Setelah Kesalahan"





Seperti halnya penyakit, De...
Kita harus bersedia menelan obat pahit,
Bahkan menjalani rangkaian teraphy yang menyakitkan,
Memualkan rasa hingga dingin keringat...

Pun juga belajar dari kesalahan,

Sesekalinya kita merasa begitu buruk,
Sesekalinya kita merasa begitu bodoh,

Tak apa...

Kita memang harus melalui keburukan dan kebodohan,
Karna dengan begitulah kita bisa menjadi lebih baik setelahnya..

Dan Kakak mu ini, De...

Tak lebih baik dari yang dinasehati,

Kau..
Ingatkan kan pula Kakak mu ini,
Nanti....

(Adik-adik ku... Kakak mencintai kalian seperti ini)

AFA
4/6/13

"Maaf kan Kakak, De..."





Kakak mu ini, De...
Tak cukup puitis dengan kosa-kata,

Lihat saja,
Kalimat ini teramat sangat sederhana tanpa intonasi,
Bahkan mungkin menajam terasa di hati..

Kau tau benar...
Kakak bahkan lebih sering bicara dengan tangan dan kaki,
Menginjak ujung jari mu,
Menendang tulang kering betis mu,
Atau bahkan melemparmu dengan buku,
Juga gelas air mineral...

Bukan karna marah,
Tapi mengingatkan mu bahwa ada yang harus di benahi,

De...
Dengan segala keterbatasan ini,
Tak sezarrah pun Kakak ingin melukaimu...
Bukan pula hendak memutus saraf utama aliran darahmu,

Kakak ingin melihatmu menjadi lelaki,
Ya.!
Menjadi lelaki...
Itu saja.!

( Adikku, maafkan Kakak bersikap "tak ramah" )

AFA,
Ba’da Zuhur, 4/5/13

** Koral Bening Sunset Point II **



"Tentang koral warna-warni itu,
Bukannya aku tidak tau betapa indahnya,
Aku bahkan pernah menyelami hingga beberapa meter kedalamnya,
Menyentuh, mencandai, dan terpaku kagum karnanya,

Tapi tidak untuk kali ini,
Menyibak atau membiarkan tenangnya adalah pilihan,
Dan aku memilih yang kedua,

Kenapa?

Seperti sebuah larangan medis,
Jika kau berenang dan menyelam,
Maka jiwamulah taruhannya,

Begitupun itu berlaku,

Seringkali dalam kehidupan,
Begitu banyak ke-indahan,
Tapi tak selalu baik bagi mu,
Dalam masa dan kondisi tertentu,

Sekali lagi,
Ini tentang pilihan menjaga apa yang harus di jaga,
Sesuatu yg lebih dari sekedar rasa,

Biarkan! Biarkan tetap seperti itu,
Bening Saja,

GLM,
Ba’da Zuhur, 5/6/13

** Sepasang Mata Di Balik pagar **



"Sesore ini,
Benih-benih itu ku temukan telah kecambah,

Benar,
Aku menunjukkan mu lahan,
Berharap kau lebih leluasa menyemai,

Jikapun hari ini aku hanya bisa melihat dari celah di balik pagar,
Tak mengapa,
Aku sudah cukup bahagia,

Pun melihat mu sumringah dengan tunas-tunas baru mu,
Sungguh!
Aku tak berharap lagi lebih dari itu..

Semoga sekali ini kau tak membenciku karna bahagia dengan kebahagiaan mu.

____ sepasang mata di balik pagar

GLM 5/6/13

JUNI KE-4





Juni ke-empat ternyata,
Dan sketsa sayapku masih juga belum mewujud sempurna,
Tak pernah.!
Setelah semua warna dan kanvas ku lempar ke angkasa,
Bersama janji Tursina mu yg tak pernah sampai padaku.

Juni ke-empat
Sketsa itu masih menyerupai mu,
Hanya menyerupaimu.

Juni ke-empat
Aku bukan tak pernah mencari warna dan kanvas baru,
Hanya saja lukisanku selalu mati,
Bahkan sebelum separuhnya.

Juni ke-empat
Ingin ku sobek saja sketsa di tanganku,
Agar tak ada lukisan yg harus di selesaikan.

Juni ke-empat
Sungguh!
Aku tak ingin menghitung bilangan Juni berikutnya.
Tak peduli sketsa ditanganku yang robek,
Ataukah warna dan kanvas yg tak lagi ada.

Juni ke-empat
Bilangan berikutnya akan ku kremasi,
Apapun caranya.

Juni ke-empat
Ini bilangan terakhir aku berkompromi.

Cukup!

(mencari korek api dan kayu bakar)
GLM,
Ba’da Ashar, 4/6/13

"Sesak Yang Tak Perlu"



"Harus ku buang saja rasa bersalah ini,
Ke angkasa,
Atau ke palung jurang paling gelap dan dalam,
Dengan begitu aku tak perlu menghakimi diri tentang seberapa jahat kurasa diriku.

Seberontaknya logikaku menolak,
Aku tak pernah merencana,
Tak juga ada lintasan menggores sesiapa,
Apatah lagi hendak mencerabut harapan seseorang tentang pagi yang indah,
Ataupun memutus saraf langkah sumringah orang lain untuk mencandai buih.

Tak pernah!
Sungguh tak pernah!

Jikapun sekali ini,
Seseorang merutuk dan mengutuk pagi,
Itu bukan salahku,
Sama sekali bukan salahku.

Aku tak pernah merebut pintu yang di ketuknya,
Tak juga menahan pemilik didalamnya.

Logika ku,
Aku harus mengkremasi juga rasa bersalahku.

Aku tidak harus mengutuk diri atas apa yang aku terima tanpa aku minta.

** tarik nafas dalam, lalu menghembuskan perlahan

GLM, Bada Magrib
5/6/13