Rabu, 05 Juni 2013

"Kau & Semua Hal Yang Pernah Aku Benci"





Aku pernah membenci puisi,
membuang semua kosa kata hingga tak tersisa.

Aku pernah membenci bintang-bintang,
Berharap mendung saja selamanya.

Aku pernah membenci purnama,
Berharap selalu gerhana total tiap waktu tibanya.

Aku pernah membenci hujan,
Berharap kemarau sepanjang masa.

Aku pernah membenci pantai,
Berharap setiap sisi laut adalah tebing seluruhnya.

Aku pernah membenci coklat dan ice cream,
Berharap makanan itu tak lagi di produksi sepanjang sisa masa.

Tapi aku tak pernah sungguh bisa membencimu,
Seperti apapun upayaku membenci setiap detail yang mengingatkan ku padamu.

Bahkan hingga sebiru-biru mu,
Pun juga pelangi yang kau ceritakan pada ku tentang teori pembiasan dan spektrum warna.

Bahkan mungkin jika aku amnesiapun,
Satu-satunya materi yg tersisa dari ingatanku adalah lukisan mu.
Lukisan utuh tentangmu.

Aku,
Tak lagi bisa membenci apapun,
Tak peduli sesayat apa setiap kali ingatan itu kembali.

Aku...
Telah lama ingin berdamai saja.
Dengan begitu,
Aku tetap bisa bernafas seperti biasa.

** GLM 5/6/13 ___ tak ingin menggali pusara

Igau Pagiku Tentang Mandalawangi



Bahkan saat ku hafalkan nama alat-alat dapur dalam bahasa ingris pagi ini,
Aku masih tetap melihat rumpun hurufnya seperti rumpun banyak Edelweiss di belakang kiri-kanan mu.

Jangan membuat galon 19 liter ku kosong,
Tak bisa minum aku nanti.

Kita bertukar tempat saja,
Ku pinjamkan puncak,
Dan aku minta padang mu..

(GLM ___ 2/6/13 ___ Mandalawangi, Oh Mandalawangi... Ingin ku sapa Soe Hok Gie ku disana, bukan tugu peringatannya. Tapi jiwanya yg menjiwaiku. Aku benar-benar bicara tentangmu Koko...)

Koral Bening Sunset Point



Hamparan koral di sunset point begitu jelas siang ini.
Seperti dalam kaca menggunakan pembersih dalam iklan tv itu.

Sayang kau masih tersembunyi menjadi sketsa dini hariku.

Tak mengapalah...
Kita sederhanakan saja,
Bahwa kita tak membutuhkan sewarna lain,
Bening saja cukup..

Dan kita begini saja.

(1/6/2013 __ jelang zuhur ___ aku harus kembali)

"Rosie & Pegal Tak Terbayar"



Kemarin...
Bahkan jika tawaf ku dua putaran,
tak juga ku temukan paman Tegar ku,
Ah ya...
Sebab memang kau masih dalam sketsa jelang subuhku.
Dan aku bukan Rosie,
Sama sekali bukan Rosie.
Jadi tak ada bayaran untuk denyut pegal di lutut kiri ku.

Kau, jauh lebih menginspirasi dari apa yg aku cari.

(1/6/2013 ___ pengen timpuk Bang Tere pake pecahan karang)

Sketsa Yang Membuatku Jatuh Cinta



"Tempat yang baik, memberikan suasana hati yang baik. Itulah sebabnya mudah bagi orang untuk jatuh cinta di tempat-tempat yg romantis"
___ Begitulah yang aku tau dari roman-roman masa putih abu dulu.

Ah ya!
Siang ini aku membenarkan itu,
Aku bahkan jatuh cinta padamu meski kau masih dalam bentuk sketsa di benakku.

Nanti, aku akan memberi tau mu..
Tempat ini tlah membuatku mencintaimu,
Bahkan sebelum aku bertemu dengan mu.

(1/6/13 ___ Sunset Point)

Sketsa Dan Semesta Inspirasi



" Seperti Ombak yang berkejaran menuju pantai
Inspirasi itu menyeruak deras di setiap aliran darah menuju kepalaku.

Bagaimana jika kau mewujud nanti?!
Bahkan ketika sekarang sketsa mu belum juga menjadi lukisan sempurna,
Halamanku nyaris penuh...

Benar memang...
Bahwa semesta inspirasi itu adalah kau...

Hanya sejenak saja bersandar,
Tak sampai usai kailulah
Ribuan kosa-kata kau hantarkan hingga tak cukup mampu aku tuliskan.

Se-Bella ini aku jatuh cinta pada mu...
Benar seperti ini...

(1/6/13 __ Sketsa Kailulah di Sunset Point ___ Gili Terawangan)